MELATI DI BUMI MENTAYA
Sampit. Hari menjelang sore ketika akhirnya kujejakkan juga kakiku di kabupaten ini. Kabupaten kecil di Propinsi Kalimantan Tengah ini akan menjadi tempatku bekerja entah untuk berapa lama. Keputusan yang cukup sulit untuk menentukan apakah aku akan kesana atau tidak telah menghantuiku lebih dari satu bulan lalu.
Sampit memang lebih kecil bila dibandingkan dengan kota-kota lainnya di Kalimantan. Mudah sekali bila menemukan gedung perkantoran atau mini market di sini. Tak banyak nuansa modern yang bisa ditemukan di tempat ini. Sampit terlihat lengang dan tak tampak aktifitas yang berarti. Kabarnya hampir setengah penduduknya telah berkurang, mengungsi akibat pertikaian etnis yang terjadi sekitar 3 tahun yang lalu. Pihak travel mengantarkanku ke kantor tempatku bekerja di sekitar jalan HM. Arsyad. Aku disambut Bapak Nurdin selaku kepala cabang. Kami sudah bertemu sebelumnya di Banjarmasin ketika ada acara pergantian kepala wilayah se-Kalimantan.
"Selamat datang di Sampit," ucapnya sembari tersenyum. "Bagaimana perjalanan dari Banjarmasin ke Sampit?" tanyanya kemudian.
"Lumayan Pak," jawabku singkat. Perjalanan menuju Sampit lewat Banjarmasin terpaksa kutempuh melewati jalan darat. Jadwal penerbangan terpaksa dibatalkan tanpa batas waktu karena kabut tebal akibat kebakaran hutan yang melanda propinsi Kalimantan Tengah saat itu telah mencapai titik yang mengkawatirkan.
"Melati Dinihari," ucapku sewaktu memperkenalkan namaku dengan karyawan setempat. Satu persatu karyawan memperkenalkan diri. Pak Nurdin sekali-kali menimpali perkenalan kami dengan menyebutkan jabatan mereka masing-masing. Setelah diberi instruksi mengenai keadaan umum kota ini, kepala cabang memperbolehkanku pergi.
"Saya minta maaf tidak bisa mengajakmu makan malam nanti. Istri saya baru saja tiba dari Medan tadi pagi," ucapnya kemudian.
"Tidak usah repot-repot, Pak" jawabku. "Saya berencana untuk beristirahat di hotel saja malam ini. Lagipula saya masih punya persediaan biskuit dan coklat. Saya rasa itu sudah lebih dari cukup untuk pengganti makan malam."
"Sebaiknya kamu batalkan rencanamu untuk tinggal di hotel saja malam ini. Zaenal bersedia menggantikan saya mengajakmu keliling kota Sampit. Dia juga bersedia menunjukkan dimana tempat yang enak untuk makan. Kalian bisa makan malam bersama nanti," Pak Nurdin memberi saran.
"Zaenal adalah karyawan bagian umum dan ketenagakerjaan. Dia termasuk karyawan baru seperti kamu. Baru beberapa bulan bekerja di cabang kita. Kamu belum sempat berkenalan dengannya tadi karena dia sedang berada di luar kantor, mengurus materi promosi untuk program di cabang kita bulan ini."
Sebetulnya aku lebih senang untuk tinggal di hotel saja malam ini. Perjalanan darat yang kutempuh selama hampir 7 jam cukup membuat tubuhku pegal-pegal. Namun setelah kupikir lagi, tidak ada salahnya aku mengikuti saran Bapak Nurdin, pergi makan malam dan keliling kota bersama Zaenal.
"Hitung-hitung wisata gratis, Din" candanya ketika aku mulai meninggalkan kantor menuju hotel.
Malam itu, Sampit terlihat semarak dengan lampu warna-warni yang menghiasi hampir setiap sudut jalan. Umbul-umbul bendera berbagai warna juga tak ketinggalan menghiasi kota. Sekitar jam 7 malam, Zaenal menjemputku di lobi hotel.
"Maaf, saya terlambat," ucapnya ketika kami mulai meninggalkan hotel. "Saya harus membuat laporan pengadaan barang dahulu."
"Tidak apa-apa. Aku juga harus membereskan barang-barang terlebih dahulu," kataku berusaha menghilangkan rasa bersalahnya.
"Sudah lama menunggukah?" tanyanya.
"Tidak juga. Saya baru selesai mandi ketika petugas hotel memberitahu kedatanganmu." Aku tersenyum mendengar logat bicaranya. Aku perhatikan penduduk Kalimantan biasa menggunakan partikel kah atau lah dalam bahasa pergaulan sehari-hari. Awalnya aku mengalami kesulitan memahami dialeg tersebut apalagi bila dialeg ini diucapkan secara cepat. Namun lama kelamaan kupingku mampu menangkap dialeg tersebut walaupun kadang-kadang masih terdengar lucu dan janggal.
"Beginilah Sampit menjelang peringatan 17-an, Mba" jelasnya sewaktu mobil mulai meninggalkan hotel. "Kota kecil ini baru terlihat lebih hidup ketika ada acara-acara tertentu saja."
"Jangan panggil Mba," seruku setengah protes. "Kamu cukup memanggilku Din atau Dini. Pak Nurdin mengatakan kepadaku kalau kita seumuran," jelasku untuk menghilangkan kekikukan diantara kita berdua.
Zaenal langsung mengajakku makan malam di sebuah rumah makan apung di sekitar sungai Mentaya. Rencana keliling kota Sampit malam itu diundur setelah makan malam. Suasana sungai tampak ramai, terlihat dari sejumlah kapal besar yang berlabuh di sekitar sungai. Perahu kecil atau penduduk setempat biasa menyebutnya klotok yang membawa penumpang beberapa kali hilir mudik melintas melewati rumah makan dimana kami berada.
"Sampit terlihat cantik," pujiku dalam hati.
Zaenal menjadi teman bicara yang menyenangkan. Banyak sekali hal yang kami obrolkan. Kami tidak ubahnya seperti teman lama yang baru saja bersua. Tiba-tiba saja aku menemukan sosok yang berbeda dari diri teman baruku ini. Entah apa yang membuatku turut merasakan setiap hal yang dia ceritakan. Aku yang cenderung tertutup untuk menceritakan kehidupan pribadiku, terlebih-lebih dengan orang yang baru kukenal, kali ini seakan-akan aturan tidak tertulis itu tidak berlaku baginya.
Zaenal merupakan salah satu warga pendatang. Ayah dan ibunya berasal dari Pamekasan, Madura. Dia anak bungsu dari 3 bersaudara. Dia dan kedua kakaknya lahir dan besar di Sampit. Itulah sebabnya dia lebih merasa sebagai orang Kalimantan daripada orang Madura. Ayahnya yang mantan guru di sebuah sekolah kecil memutuskan untuk mengadu nasib di kota ini lebih dari 30 tahun yang lalu. Pada umur 22 tahun, Zaenal bekerja pada sebuah perkebunan kelapa sawit di daerah Pundu, sekitar 90 km dari kota Sampit. Disanalah dia bertemu dengan Runesi, wanita muda keturunan Dayak yang bekerja sebagai pekerja harian. Perkenalannya dengan Esi, begitu nama panggilannya, ketika suatu waktu Zaenal menolong wanit itu dari lilitan ular phyton.
"Perkebunan itu terletak di tengah hutan belantara, Din. Ular adalah binatang yang biasa dijumpai sehari-hari oleh para pekerja," jelasnya ketika melihat perubahan ekspresi wajahku karena terkejut. "Kami terbiasa melihat segala jenis ular karena setiap pagi ketika kami berangkat atau setiap sore ketika kami pulang ke barak, ular-ular itu biasa dijumpai di bawah barak kami yang berupa rumah panggung," jelasnya lagi.
"Pekerja di perkebunan tersebut hidup tanpa penerangan yang cukup. Fasilitas MCK kami hanya sebuah sungai yang terletak tidak jauh dari barak dimana kami tinggal. Alat elektronik yang dapat kami nikmati hanyalah sebuah mini compo. Tak heran banyak pekerja di sana yang mendapat jodohnya sesama pekerja juga. Tak terkecuali kami berdua," kenangnya sembari tersenyum.
"Kehidupan sederhana di barak itulah yang menimbulkan kedekatan di antara kami. Kami berdua saling menghibur dan menguatkan satu sama lain. Esi yang merawatku sewaktu aku terserang penyakit Malaria sewaktu masih di perkebunan."
Ekpresi di wajahku kembali berubah. Kali ini bukan karena terkejut namun lebih karena rasa haru yang meliputi dadaku mendengar penjelasannya. Rasa haru mengingat begitu tabahnya mereka bekerja untuk bertahan hidup. Tak terbayang jika diriku yang harus bekerja seperti mereka, di tengah hutan belantara yang penuh resiko.
Zaenal membuka dompetnya dan memperlihatkan foto seorang wanita. "Ini Esi," ucapnya memberitahuku. Zaenal mengulurkan tangan kanannya agar aku dapat melihat foto itu dengan baik. Esi berambut panjang sebahu, serasi dengan kulitnya yang putih. Lesung pipit di kedua pipinya semakin membuatnya terlihat menarik.
"Dia cantik," kataku memuji. "Dimana dia sekarang?" tanyaku sembari mengembalikan foto tersebut.
Sejenak Zaenal terdiam tak menjawab pertanyaanku. "Esi sudah meninggal. Dia termasuk salah satu korban dalam kerusuhan lalu," jawabnya sambil memasukkan foto itu ke dalam dompetnya. Ekspresi di wajahku kembali berubah. Aku tak mampu berkata-kata mendengar ucapannya. Kudengar dia menarik napas panjang. Kuelus punggungnya setengah menepuk untuk menunjukkan rasa simpati yang dalam.
Pembicaraan kami terputus sesaat ketika seorang pelayan mulai menyajikan makanan yang kami pesan.
"Kami dulu sering ke rumah makan ini," suaranya memecah keheningan. "Beberapa bulan setelah kami pacaran, Esi tidak bekerja lagi di perkebunan dan tinggal di rumah orang tauku di Sampit. Keluarga di kedua belah pihak sepakat untuk melangsungkan pernikahan kami secepatnya. Namun sebelum itu terjadi, kerusuhan sudah melanda kota ini," ucapnya sendu.
Aku hanya terdiam. Ceritanya yang cukup mengejutkan ini mampu menghapus selera makanku. Rasa lapar yang kurasakan sejak kami meninggalkan hotel seolah sirna terhapus atmosfir kesedihan yang turut kurasakan juga. Bayangan ngeri sewaktu-waktu pertikaian tersebut kembali terjadi sesaat menghantui pikiranku.
"Tenang, Din. Sampit sudah aman sekarang," kata-katanya mengagetkanku. "Penduduk asli sudah menerima penduduk pendatang untuk menetap di sini. Warga pendatang pun telah menghargai hak-hak penduduk asli. Kami sudah hidup damai berdampingan seperti dulu lagi," jelasnya berusaha menenangkanku.
Aku sedikit bingung dengan teman baruku ini. Entah apa yang membuat Zaenal bisa membaca pikiranku.
"Syukurlah kalau begitu." Jawaban itu saja yang keluar dari mulutku.
"Hidup ini memang aneh," ucapku dalam hati. "Siapa sangka di tempat yang berjarak beratus-ratus kilometer dari Jakarta, aku menemukan seseorang yang juga kehilangan orang yang sama-sama sangat kami cintai."
Satu persatu lembaran masa lalu mengisi memori di kepalaku.
"Kamu yakin mau bekerja di Kalimantan, Din?" Pertanyaan itu sering kali ditanyakan sewaktu aku menyempatkan diri memberikan kabar mengenai kepergianku kepada beberapa teman dekatku. Apalagi sewaktu mereka mengetahui bahwa tempat tujuanku bekerja adalah Sampit. Berbagai komentar bernada miring tak ayal menghujaniku silih berganti.
"Mungkin sudah jalanku harus bekerja di sana. Lagipula sudah keinginanku untuk bekerja di luar Pulau Jawa." Jawaban itu saja yang bisa kuberikan menghadapi pertanyaan-pertanyaan ragu yang dilontarkan oleh beberapa teman dekatku. Mereka tidak perlu tahu apa penyebabnya. Mereka tidak perlu mengetahui bahwa alasan aku pergi lebih disebabkan karena aku ingin melupakan Rama, pria yang selama ini mereka kenal sebagai kekasihku. Aku dan Rama sudah tidak bersama lagi. Kebersamaan kami selama 5 tahun akhirnya harus terhenti karena Rama memutuskan tidak ada kecocokan di antara kami.
"Sori, Din. Aku sudah tidak nyaman dengan hubungan ini. Aku rasa hubungan ini harus berakhir." Kalimat itu terus saja berputar di kepalaku tanpa aku bertanya kenapa. Hari-hari terakhir kebersamaan kami memang dilewati dengan begitu banyak kerenggangan dan pertengkaran. Namun, mengakhiri hubungan ini bukanlah hal yang ada dibenakku.
Kulayangkan pandanganku ke arah pasar apung yang terletak tidak jauh dari tempat kami makan. Sejenak aku tenggelam menikmati rutinitas sederhana masyarakat sekitar. Aku bisa duduk berjam-jam mengamati tingkah laku orang ketika menawar barang dagangan yang mereka beli. Apalagi ada kepuasan tersendiri di batinku melihat ranumnya buah-buahan, sayur mayur yang segar dan berbagai rupa jajanan pasar yang kerap dijumpai di pasar tradisional.
Kulihat Zaenal sudah tidak terpengaruh dengan ceritanya barusan. Dia terlihat lahap menyantap hidangan yang berupa ikan patin bakar lengkap dengan lalapan dan sambal.
2 minggu sebelum kuputuskan berangkat ke Kalimantan, aku menerima kabar yang cukup mengagetkan. Rama berpacaran dengan Laras.
"Din, Rama sekarang menjalin hubungan dengan Laras," ucap Eko, karibku. Dia diam sejenak. "Kamu tidak apa-apa?" tanyanya kemudian.
"Aku tidak apa-apa," jawabku pendek.
Lalu dengan singkat, karibku menjelaskan kronologis kejadian itu. Aku tidak berkata sepatah katapun mengenai penjelasannya. Laras sudah kuanggap teman baikku. Aku banyak bercerita mengenai hubunganku dengan Rama walaupun tidak sampai hal yang detail. Aku tidak mudah menceritakan hubunganku dengan Rama kepada orang lain terlebih-lebih kepada seseorang yang mempunyai rasa suka kepada Rama.
"Dia bukanlah tipe pria yang aku suka, Din" ujarnya suatu kali menanggapi pertanyaanku tentang perasaannya kepada Rama. Entah mengapa waktu itu aku bertanya. Buktinya toh sekarang dia menerima Rama menjadi pacarnya. "Hatiku luluh karena Rama begitu perhatian dan sayang kepadaku," jelasnya ketika aku menyempatkan diri mengucapkan selamat atas kebersamaan mereka.
"Kamu tidak makan?" pertanyaan Zaenal menggugah lamunanku. "Ikan Patinnya nanti loncat ke sungai lagi lho," candanya. "Kamu pasti menyukai masakan di rumah makan ini. Bupati Sampit termasuk salah satu langganan di sini," ujarnya berpromosi.
Promosinya ternyata bukan isapan jempol belaka. Lidahku tidak menolak rasa ikan maupun sambal yang dihidangkan. Hampir satu bulan keberadaanku di Kalimantan, aku menemui kesulitan dengan cita rasa dan jenis makanan di pulau ini. Sejak kedatanganku di Balikpapan, Samarinda dan Banjarmasin, baru kali ini aku menunjukkan nafsu makan yang boleh dibilang normal. Untuk sementara, aku sibuk mempreteli daging ikan Patin yang konon tidak boleh dimakan oleh penduduk keturunan Raja-raja di propinsi Kalimantan Tengah ini.
Sejam kemudian, Zaenal kemudian membawaku ke sebuah taman kota yang terletak tidak jauh dari hotel tempatku menginap. Taman kota terlihat ramai oleh kerumunan masa menyaksikan persiapan malam tujuh belasan di kota itu. Sebuah panggung besar berdiri megah dilengkapi dengan sound stereo di kedua sisinya.
Zaenal sedikit memberi penjelasan bahwa malam Agustusan nanti akan dihadiri oleh pejabat daerah setempat, sedangkan hiburan yang akan disuguhkan adalah acara musik yang dibawakan grup musik lokal. "Kamu pasti akan terbengong-bengong melihat kerumunan masa yang membludak nantinya," jelasnya.
Mungkin tidak berlebihan bila ia berkata seperti itu. Suasana taman kota tak ubahnya seperti pasar kaget. Pedagang berbagai macam barang semakin menambah maraknya suasana taman malam itu. Desahan napas Zaenal menggugah lamunanku. Baru kusadari Zaenal tidak banyak berkata-kata saat itu. Matanya memandang tak berkesip tanah lapang di hadapan kami. Merasa diperhatikan, Zaenal menatapku dan dia tersenyum, "Ada apa, Din?"
"Maaf. Tetapi kenapa tiba-tiba kamu berubah menjadi diam?" tanyaku
"Di lapangan ini, semua keluargaku terbunuh bersama dengan beberapa warga keturunan Madura lainnya," katanya ketika ia menemaniku duduk dipinggiran taman. "Aku sendiri selamat karena saat itu aku masih bekerja di perkebunan kelapa sawit."
Aku merasa gamang sesaat. Lagi-lagi kenalan baruku ini mengagetkanku dengan ceritanya. Zaenal membawaku ke titik-titik emosional yang jarang aku rasakan sebelumnya. Sesaat dia membawaku ke titik netral dengan menceritakan hal-hal yang menarik mengenai kisah hidupnya. Di lain waktu, dia menjebakku ke titik minus dengan menceritakan kenangan pahit dalam hidupnya. Tak kusangka tanah lapang yang berada di depan kami telah menjadi saksi bisu peristiwa yang telah menjadi daftar hitam sejarah bangsa Indonesia.
"Aku tidak menyalahkan siapa-siapa dalam hal ini, Din" katanya sambil memandangku. Zaenal menceritakan bahwa sebenarnya sebelum kerusuhan Februari 2001 itu terjadi, sudah ada beberapa kali kerusuhan kecil yang terjadi. Dia tidak menampik ketika kutanya perihal sikap etnisnya yang mungkin menjadi pemicu pertikaian tersebut. Dia juga mengatakan bahwa ada oknum tertentu dari etnisnya yang mengakibatkan peristiwa berdarah itu terjadi. Akibatnya banyak orang yang tidak berdosa menjadi korban.
"Aku ikhlas menerima kepergian mereka, karena aku yakin Tuhan mempunyai rencana yang terbaik bagiku," ucapnya bijak. "Aku sadar hidup ini adalah sebuah anugerah. Namun aku juga menyadari bahwa hidup adalah sebuah pilihan. Bila memang bukan aku yang dipilih untuk menjalani hidup bersama keluarga dan wanita pilihanku, setidaknya kau bersyukur karena masih diberi anugerah untuk tetap hidup."
Bisa kurasakan beratnya cobaan yang harus teman baruku ini hadapi. Dia mungkin tengah menghadapi dilema dimana dia tidak hanya kehilangan kekasih namun juga seluruh keluarganya yang notabene berasal dari dua etnis yang bertikai. Kata-katanya terakhir mengusik hatiku. Dibanding dengan apa yang dialami Zaenal, apa yang aku alami mungkin tidak berarti.
Sekilas rekaman masa lalu melewati lamunanku.
Begitu jelas diingatanku hari-hari dimana kulalui tanpa senyum dan suara Rama. Ternyata kehilangan yang kurasakan begitu besarnya hingga kuputuskan untuk keluar dari tempatku bekerja. Tempat dimana aku bekerj dulu begitu banyak meninggalkan kenangan yang aku tahu akan sulit dilupakan bila aku tidak memilih untuk meninggalkannya. Setiap sudut dan jengkalnya menyimpan sejuta cerita dan membawaku kembali ke hari dimana Rama masih menjadi milikku. Namun kali ini cerita itu tidak membawa senyum tetapi luka yang semakin menganga. Aku tidak mau cengeng dan lemah. Tetapi aku tidak sanggup.
Ternyata Tuhan mengabulkan permohonanku. Aku pindah bekerja di sebuah majalah terbitan ibukota tiga bulan kemudian. Namun itupun ternyata tidak mampu melupakan Rama. Dia seakan-akan hadir di setiap sudut dimanapun aku berada. Terlebih-lebih dengan profesinya sebagai seorang penulis, Rama sering diminta untuk menulis di majalah tempatku bekerja. Rama memang berbakat. Karirnya tengah menanjak. Dia sering diundang ke berbagai acara TV, Radio atau hasil tulisannya bisa dibaca di berbagai media cetak ternama ibukota.
Dengan berat hati kuputuskan untuk keluar dari majalah tersebut walaupun aku mulai menyukai pekerjaan baruku. Semenjak aku pindah bekerja, aku putus kontrak dengan semua teman-teman yang ada hubungannya dengan aku dan Rama. Aku mengganti nomor telepon genggamku tanpa memberitahukannya kepada mereka. Aku benar-benar mencoba untuk mengalihkan semua hal yang berbau Rama. Aku memaki dalam hati mengapa sampai jauh begini tindakanku untuk melupakannya.
"Pria tidak hanya satu, Din. Memang kalimat itu klise, tetapi memang itu kenyatannya," jelas Cathrin, teman sekolahku dulu. "Cobalah untuk melihat dirimu secara positif. Kamu cantik, pintar dan pandai bergaul. Kamu dengan mudah mendapatkan pengganti Rama. Aku tahu kamu sangat kehilangan dia tetapi bukan berarti kamu larut dengan kehilanganmu itu," tambahnya.
Ahh, semua orang mengatakan kata-kata yang sama. Kata-kata yang seharusnya menjadi hal yang menguatkan diriku namun tetap tidak dapat menghiburku.
"Aku sependapat denganmu, Trin. Aku juga tidak mau lemah dan cengeng. Aku bukan tipe orang seperti itu," belaku. "Namun itu tidak mudah. Aku juga tidak tahu mengapa. Mungkin aku terlalu mencintainya."
"Cinta itu bukan segalanya dalam suatu hubungan. Lagipula aku pikir kamu tidak terlalu mencintainya," Cathrin berpendapat. "Detik dimana kamu berani bercinta, detik itu juga kamu harus siap apabila cinta meninggalkanmu. Dalam hal ini, kamu tentunya belum siap jatuh cinta, Din."
"Ternyata bukan aku seorang yang merasakan kehilangan," kata-kata Zaenal menggugah lamunanku. Ia tersenyum memandangku. "Kamu ternyata juga kehilangan orang yang kamu cintai, bukan?" tanyanya. "Tetapi kalau yang ini, kehilangan karena patah hati," katanya menggodaku.
Wajahku memerah karena malu. "Lagi-lagi dia bisa membaca hati dan pikiranku," umpatku dalam hati.
Kembali dia tertawa menggoda melihat sikapku.
"Besok kalau kamu ada waktu, kita bisa makan malam lagi," ajaknya ketika dia mengantarkanku sampai pintu hotel. "Ada soto Banjar yang enak dekat pelabuhan. Aku yakin kamu pasti langsung jatuh cinta dengan cita rasanya. Dijamin, jatuh cinta yang ini tidak membuatmu patah hati," kata-katanya kembali menggoda.
Tanpa berpikir dua kali, aku langsung menerima tawarannya. Aku kagum dengan ketabahan dalam diri pemuda ini. Dia mampu bersikap wajar dan tidak berlarut-larut tenggelam dalam kesedihan yang dialaminya.
Kurebahkan badanku ketika aku mulai memasuki kamar hotel. Kembali aku mencoba mencerna perkataan temanku, Cathrin.
Mungkin benar adanya semua yang dikatakan Cathrin. Cinta itu bukan segalanya dalam suatu hubungan. Banyak hal yang ternyata turut andil bagian dalam perjalanan cinta yang akhirnya menjadikan cinta itu sendiri akhirnya hilang, menguap tanpa bekas. Mungkin itu yang terjadi dalam hubungan kami. Beberapa hal yang semula kuanggap biasa-biasa saja pada akhirnya tidak dapat ditolerir lagi oleh Rama.
Tiba-tiba perasaanku menyesal datang dan menyeretku ke hari-hari dimana dia secara lembut mencoba mengungkapkan perkataan dan perbuatanku yang dirasa kurang berkenan. Aku akui seringnya aku bersikap kasar bila aku sedang marah karena sesuatu sebab. Bahkan tak jarang dia sering menjadi limpahan kemarahanku. Rama begitu sabar mencoba untuk mengerti, menerima dan menyadarkanku sampai suatu saat dia merasa kalau semua itu ternyata tidak berhasil. Akhirnya apabila aku sedang marah, dia hanya diam dan membiarkanku saja sampai akhirnya dia berkata kalau semuanya harus diakhiri.
"Kalau kamu sedih mengapa kita harus berpisah, ingatlah semua sikap kasarmu kepadaku," sarannya.
Kupejamkan mataku. Aku sadar kalau semuanya benar-benar sudah berakhir.
"Ko, aku punya satu permintaan sebelum aku pergi. Tidak ada hal yang akan membuatku tersenyum bahagia selain melihat sahabat-sahabatku menemukan pasangan yang tepat buat mereka," ucapku ke karibku, Eko. "Rizal sudah mantap dengan Indri. Tahun depan mereka akan menikah. Rindra dan Eni juga akan menikah. Rama dan Laras, walaupun hubungan mereka terbilang baru namun aku yakin mereka dapat berlanjut ke hubungan yang serius. Aku ingin kamu juga mendapatkan pasangan yang cocok seperti mereka."
Waktu itu kami berdua berada di bandara. Aku memutuskan meninggalkan Jakarta pagi-pagi sekali. Eko satu-satunya orang yang kuperbolehkan mengantar kepergianku ke Kalimantan. Sejenak kulihat ia menarik napas lalu melayangkan pandangan kosong ke arah penumpang yang berlalu lalang di hadapan kami.
"Aku tidak tahu, Din" jawabnya kaku. Dia terdiam. Kudapatkan pandangan kosong di matanya. "Begitu banyak cinta dihadapanku namun tak satupun yang mampu membuka hatiku untuk menerimanya. Aku takut nantinya tak mampu menjaga api cinta supaya tetap ada, tidak padam."
Aku tersenyum dan menggenggam ke dua tangannya. Karibku satu ini boleh dikatakan beruntung. Sangat beruntung malah. Bukan satu atau dua wanita yang secara terang-terangan menyatakan cinta kepadanya, namun semuanya dianggap angin lalu. "Ibarat naik bus kota, jangan terlalu banyak memilih kalau ada kesempatan untuk menaikinya," ujarku mencoba memberi saran. "Lama-lama tidak ada bus yang mau berhenti di halte yang kamu tunggu," candaku setengah mengancam. Pula kukatakan kepadanya bahwa apa yang terjadi antara aku dan Rama janganlah dijadikan ketakutan baginya untuk menjalin suatu hubungan.
Karibku ini ternyata ikut sedih melihat akhir hubunganku yang tidak berjalan dengan baik. Setelah resmi hubunganku dan Rama berakhir, bukan hanya Eko namun teman-temanku yang lainnya kaget akan berita perpisahan ini. Di mata mereka aku dan Rama adalah pasangan yang ideal dan penuh dengan kasih. Tak jarang mereka mengaku kalau mereka iri dengan cinta kami. Hal inilah yang mungkin membuat Eko takut akan mengalami hal yang sama nantinya.
"Din, kita berdua sama-sama sendiri. Kenapa kita tidak memutuskan untuk pacaran saja?" tiba-tiba Eko bertanya. "Atau kita tidak perlu pacaran. Langsung menikah. Setuju?" ajaknya bersemangat.
Kucubit tangannya dan kita sama-sama tertawa. Eko memang selalu membuat suasana sendu menjadi ceria. Itulah sebabnya hanya dia yang kuperbolehkan mengantarkanku ke bandara.
Malam semakin larut. Udara menjadi dingin. Kututup jendela kamarku. Kupandangi angkasa yang bertaburan bintang dengan sinar kecilnya yang berkelap-kelip. Kunikmati perasaan nyaman dan tenang sejenak. Entah mengapa bintang-bintang itu selalu membawa damai yang tak terperi setiap kali aku memandangnya.
Kupandangi sebuah lilin berbentuk bintang yang diberikan Eko sebagai kenang-kenangan. Lilin itu berukuran sedang berwarna biru muda dengan sumbu kemerahan ditengahnya. Kunyalakan lilin dan kucium bau melati yang harum namun tidak terlalu mencolok hidung. Keharuan menyeruak hatiku. Begitu besar perhatiannya kepadaku.
"Lilin itu kupesan khusus buatmu, Din" Eko memberi keterangan sewaktu kami akan berpisah. "Banyak lilin yang berbentuk bintang namun jarang yang berbau melati seperti ini," sambungnya.
"Trims, Ko." Aku tidak tahu harus berkata-kata apa lagi. Kuambil telepon genggamku dan mencari sebuah nama. Nama yang selalu muncul pertama kali setiap saat hatiku diliputi rasa tidak nyaman.
"Malam Ko, sudah tidur ya?" takut-takut aku bertanya mengingat waktu sudah menunjukkan hampir jam 11 malam.
"Belum Din, aku baru pulang menemani Ibu ke resepsi pernikahan anak teman satu kuliahnya dulu." Suara itu
begitu lembut. "Kamu kok belum tidur? Bukannya kamu besok harus kerja?" tanyanya beruntun.
Pertanyaan itu begitu tulus. Mulutku terkunci. Kami sama-sama terdiam.
"Aku hanya mau bilang kalau aku akan menjadi Dini yang dulu," akhirnya aku bersuara juga. "Aku akan menjadi Melati Dinihari yang kau kenal dulu. Ceria dan penuh semangat hidup," tambahku kemudian.
"Dini yang baik, tidak sombong serta rajin menabung," tambahnya kembali menggoda. Wajahku memerah karena kesal digoda terus. "Pasti lagi ngambek," kembali dia menggoda. Aku tersenyum. Kudengar dia tersenyum. Lalu kami sama-sama tertawa.
"Aku senang mendengarnya, Din. Aku baru lega sekarang karena aku tahu kamu akan baik-baik saja."
"Aku akan baik-baik saja, Ko."
"Selamat tidur, Ko" ucapku mengakhiri pembicaraan.
"Selamat tidur, Din. Selamat malam."Kuakhiri hari ini dengan perasaan lega. Perasaan yang hampir 9 bulan ini begitu sulit kudapat. Disini, di Sampit, aku mendapatkan ketenteraman yang lama hilang dari hatiku. Kembali aku teringat kalimat yang diucapkan Zaenal. Hidup ini memang karunia dan juga sebuah pilihan. Kalau memang hidupku tidak aku jalani bersama Rama, setidaknya aku bersyukur bahwa aku masih bisa merasakan hidup ini.
"Terima kasih Tuhan. Terima kasih," seruku berkali-kali. Begitu damainya hati ini hingga membuatku menangis. Ternyata Tuhan memang mempunyai rencana membawaku ke kota ini. Begitu aneh rencananya bagiku. Namun aku yakin kalau dapat menjalaninya dengan hati yang lapang dan optimis. Sebelum tidur, aku berdoa memohon ampun atas kealpaanku selama ini dihadapannya.
Sampit, Agustus 2003